Posts

Showing posts from October, 2015

Dekonstruksi Logika

Image
Corriveau dan P.L Harris dalam makalahnya yang berjudul "Judgement about Fact and Fiction from Religious and Nonreligious Backgrounds" yang diterbitkan tahun 2014 menemukan bahwa anak-anak yang terbiasa dididik dalam pendidikan relijius cenderung kesulitan membedakan fiksi dan fakta, karenanya indoktrinisasi rasa takut berlebihan ditambah dengan pembatasan sikap kritis dapat terus berlangsung hingga anak beranjak dewasa dan tidak menutup kemungkinan berla njut ke generasi selanjutnya. Tidak ada yang salah dari pendidikan relijius yang ditanamkan semenjak kecil, bahkan hal tersebut seyogiyanya dilakukan sebagai penyeimbang kehidupan horizontal dan vertikal, tetapi pendidikan dogma satu arah tanpa adanya kesempatan untuk bertanya kebenaran ditambah ancaman judgement tanpa ampun atas kesalahan dapat membentuk pribadi generasi "yes man" selama itu dibalut dengan "bumbu" kepercayaan. Tradisi berpikir kritis terkadang dianggap sebagai wabah bahkan ha...

Mengasah Hidup

Di tahun awal perkuliahan S1, dosen pengampu mata kuliah Psikologi Komunikasi saya pernah melontarkan kalimat kurang lebih "cobalah menjadi asing, dengan begitu kita bisa lebih menghargai kehidupan". Kalimat tersebut secara sederhana saya terjemahkan jika ingin menghargai perbedaan, pergilah jauh, carilah pengalaman, jadilah sosok yang asing, hingga akhirnya saya menyimpulkan bahwa suatu saat saya harus berkelana ke Indonesia bagian Timur! Ide berkelana menuju Indonesia bagian Timur bukan tanpa alasan, Indonesia itu luuuuaaas sekali, tapi bagian Timur jarang terekspos. Berkelana bukan dalam artian datang ke suatu tempat, selfie, lalu tinggalkan. Tapi berkelana untuk mengetahui kehidupan di sana, bergaul dengan masyarakat lokal, melihat perspektif mereka, dan tentunya menjadi asing untuk mampu mengolah rasa tentang hidup. Saat rekan sejawat mulai menyiapkan Riwayat Hidup terbaik untuk dimasukkan ke setiap perusahaan setelah menyelesaikan study S1, saya justru mencar...

Mengislamkan Batu

Saya teringat sebuah kalimat yang dilontarkan seorang teman "blaming does not require any research nor thinking, it is occured spontaneously without process". Saya mengamini hal tersebut mengingat banyaknya informasi penuh kebencian yang berseliweran di dunia maya tanpa filter nalar memadai. Tetapi kalimat tersebut jua yang mengarahkan pemikiran saya kepada salah seorang manusia penuh teladan dari Indonesia. Sosok tersebut adalah Kanjeng Kiai Hamam Ja'far. Kiai Hamam Ja'far adalah pembangun peradaban intelektual melalui Pondok Pesantren di desa Pabelan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di saat mudanya, beliau berjuang membangun Pondok Pesantren Pabelan di tengah masyarakat yang saat itu diliputi dengan kebodohan, takhayul, dan mental rendah diri dengan salah satu ucapannya yang kelak akan selalu diingat oleh santrinya "Ayo Islamkan batu-batu itu" setiap beliau dan santrinya ke Kali Pabelan. Mengislamkan batu bukanlah hasil, tapi merupakan proses,...

STIGMA, MUSLIM, LITERASI, DAN WISATA.

Selama satu tahun mencari ilmu di negeri Formosa entah beberapa kali saya disangka sebagai orang lokal, mungkin mereka menyangka saya sebagai orang lokal karena penampilan dan fisik yang tidak beda jauh dengan mereka. Berbeda dengan rekan-rekan yang lain, saya tipikal orang yang cenderung menutupi identitas terlebih dahulu jika bertemu dengan orang baru, ketika berkenalan sayalah yang terlebih dahulu bertanya "where do you come from?", dan jika lawan bicara tidak bertanya balik belum tentu saya akan memberi tahu tentang kewarganegaraan. Begitu pula dengan kepercayaan, saya termasuk orang yang tidak menunjukkan diri saya seorang muslim melalui penampilan. "Penutupan" diri ini bukan tanpa alasan, selama berada di negeri orang, saya ingin tahu apa pendapat bangsa lain secara objektif mengenai dua hal yang melekat pada diri saya, yaitu negara dan agama. Cara saya mencari tahu hal ini adalah dengan membaurkan diri di berbagai kesempatan dan pertemuan yang mel...