Posts

Showing posts from September, 2017

Mempromosikan Hal Yang Seharusnya Linear

Image
Kita tahu, dalam mempromosikan suatu produk kita butuh teknik marketing tertentu melalui iklan,   Nah dalam beriklan diperlukan linearitas antara produk yang diiklankan, citra produk yang diiklankan, dan pihak yang mengiklankan. Ambil contoh, saya menjual gel rambut (produk) dengan kualitas yang terbaik, karena kualitasnya terbaik maka dipercaya pasar dapat membuat penampilan lebih menawan, ganteng, dan elegan (citra produk),   Sejauh ini tidak ada masalah dengan hal ini karena kualitas dan citra produk sudah terpercaya sejak dulu. Nah, masalah justru timbul setelah saya mempromosikannya dengan teriak-teriak sampai memekakkan telinga, dandanan acak-acakan sembarangan, dan dengan gencar merendahkan produk lain. Saya beranggapan kalau itu adalah cara terbaik untuk "mempromosikan" produk saya, eh tapi saya kaget kenapa konsumen bahkan calon konsumen produk saya justru beralih ke produk lain? Padahal kan produk saya jelas terbaik dari segi kualitas dan komposisi? Apa yang salah? ...

Bagaimana Menjadi Waras di Media Sosial?

Image
Sudah 2017 masehi ternyata, dan saya yang tidak terasa berumur ratusan tahun ini bersyukur masih diberikan nikmat yang tidak didapatkan Firaun, yaitu nikmat punya akses internet. Lah, bayangin aja, Firaun udah kaya raya, punya kuasa, tapi seumur hidupnya enggak pernah nonton Youtube, sementara saya yang cuma punya temen banyak, bisa bernafas menghirup oksigen, dan keseleo kalau ngadu panco sama Agung Hercules malah bisa sepuas-puasnya nonton Youtube (selama ada jaringan internet pastinya). Ayub 1 - 0 Firaun Sebagai pengguna internet aktif setiap hari -kecuali hari kiamat- saya menghabiskan hampir sebagian besar kehidupan saya di depan layar, entah itu layar handphone, layar laptop, sampai layar lunas cicilan hutang. Saya akui, sebagian besar aktifitas saya di internet tidak jauh dari sosial media, saya menyukai sosial media karena di sinilah saya bisa menemukan beragam jenis kehidupan, dari yang menyenangkan, menyebalkan, dan menyebalkan banget. Disadari atau tidak, beberapa tahun tera...

Surga dan Obsesi Duniawi Kita Yang Belum Selesai

Image
Sewaktu masih lucu-lucunya seperti Komeng di bangku SD belasan tahun yang lalu, bapak tidak pernah mengizinkan saya untuk memiliki Play Station sementara kawan-kawan lainnya sudah memiliki konsol game jutaan umat ini, selain karena saat itu harganya sangat mahal, bapak juga termasuk golongan konservatif untuk urusan ini, bagi bapak bermain game hanya membuang-buang waktu produktif yang harusnya bisa dipakai untuk membaca buku, belajar, bermain sepakbola, atau latihan bungee jumping. Karena larangan itulah, Play Station bagi saya adalah sebuah kemewahan yang rasanya sulit untuk dimiliki, pergi ke rental adalah satu-satunya jalan rasional yang dapat saya tempuh saat itu ditambah menjalani tirakat terbaik dengan menahan lapar dan haus untuk menghemat uang jajan demi bisa pergi ke rental. Di masa itu juga, saat teman-teman lain masih sibuk berpikir soal menamatkan game apa, saya sudah berpikir “Pasti di surga nanti ada Play Station yang bisa dimainkan sepuasnya tanpa dibatasi waktu...